Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto Jawa Timur berupaya membantu masyarakat terdampak COVID-19 lewat dapur umum yang didirikan. Dapur umum untuk memasok kebutuhan makanan siap santap bagi warga di tengah pandemi Corona COVID-19.
Pemkab Mojokerto pun menyerahkan bahan pokok berupa lima ton beras, 200 dus mi instan, satu pikap sayur mayur serta uang Rp15 juta ke dapur umum setempat untuk menangani masalah pandemi virus corona jenis baru atau COVID-19.
Bupati Mojokerto Pungkasiadi menuturkan, bantuan itu diserahkan ke dapur umum terpadu yang berada di Pondok Pesantren Segoro Agung, Trowulan, yang didirikan untuk memasok kebutuhan makanan siap santap bagi masyarakat, di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
“Kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin selama bulan Ramadan sampai Idul Fitri,” kata dia di sela pelaksanaan proses memasak di dapur umum setempat, Jumat, 1 Mei 2020, seperti dikutip dari Antara.
Semua Kecamatan Dapat Nasi Bungkus
Ia memastikan semua kecamatan di Kabupaten Mojokerto akan menerima nasi bungkus yang bakal dibagikan secara bergilir. “Alhamdulillah, aktivitas di dapur terpadu ini sudah berjalan 10 hari terhitung sebelum puasa. Kami tetap berusaha membantu masyarakat yang terdampak COVID-19. Kami akan gilir pembagiannya, semaksimal mungkin semua kecamatan bisa mendapatkan,” kata dia.
Pada Jumat 1 Mei 2020, kata pria yang akrab dipanggil Abah Ipung itu, dilakukan pembagian 1.500 porsi nasi bungkus untuk masyarakat di beberapa kecamatan. “Antara lain Trowulan, Jatirejo, Sooko, Kemlagi, Jetis dan Dawarblandong,” kata dia.
Kegiatan itu dihadiri Kapolres Mojokerto AKBP Feby D.P Hutagalung, Dandim 0815 Letkol Inf Dwi Mawan Sutanto, serta Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto Yayuk Pungkasiadi.









Pelaksanaan PPKM Darurat menurut Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (DPP LPKAN) Indonesia sangat penting.


Surabaya – Lembaga Pemantau Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Indonesia, mendukung penuh kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat, Jawa-Bali, dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Oleh karena itu, lanjut Mohammad Ali, LPKAN Indonesia siap mengawal program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di tengah lonjakan kasus Covid-19, di antaranya pemberian dana stimulus program PEN seiring adanya penerapan PPKM Darurat.
“Kami siap memberikan masukan kepada aparat penegak hukum untuk bertindak tegas bagi penyelenggara negara yang sengaja memanfaatkan anggaran kedaruratan Covid-19 ini yang tidak sesuai nomenklatur keuangan negara dan peraturan yang berlaku,” tegas Ali kepada wartawan di Surabaya, Rabu 7 Juli 2021.
LPKAN Indonesia juga meminta pemerintah melalui lembaga penegak hukum untuk memperketat pengawasan bantuan anggaran penanggulangan ekonomi akibat pandemi.
Dengan demikian, kata Muhamad Ali, bantuan tersebut tepat sasaran, sehingga masyarakat penerima manfaat tidak dirugikan oleh oknum “berdasi” yang sengaja memanfaatkan situasi pandemi ini.
Pihaknya juga mendorong penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan penyalahgunaan penyelewengan dana Bansos. Baik itu melalui program bantuan langsung tunai (BLT) maupun bantuan pangan non tunai (BPNT).
Hal tersebut dikatakan Mohammad Ali, menyusul adanya dugaan penyalahgunaan dana Bansos tersebut sempat viral yang baru-baru ini ditemukan oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini di Malang, Jawa Timur.
Menurut Mohammad Ali, tidak menutup kemungkinan penyelewengan-penyelewengan dana tersebut bisa saja terjadi di daerah lain di seluruh Indonesia.
“DPP LPKAN Indonesia berharap agar pihak Kepolisian bertindak tegas dengan kejadian tersebut, agar masyarakat yang terdampak dari virus Corona dapat merasakan bantuan dari pemerintah, dan meringankan beban hidupnya,” imbuh Mohammad Ali.
Pihaknya juga berharap agar virus varian baru Corona tersebut segera bisa diantisipasi pemerintah oleh sehingga pemulihan ekonomi masyarakat segera kembali berjalan lancar.
Pada kesempatan itu, DPP LPKAN Indonesia juga turut mengevaluasi terkait pelaksanaan program 1 Juta vaksin per hari pada bulan Juli oleh pemerintah.
“Kami berharap pelaksanaan vaksin gratis tidak terpusat pada satu titik, melainkan dapat tersebar merata di seluruh desa, kecamatan. Baik kota maupun kabupaten di seluruh Indonesia. Hal itu agar tidak menimbulkan cluster baru akibat kerumunan warga mengantri demi mendapatkan vaksin gratis,” ujar Mohammad Ali. (ana)