Penulis Bonfilio Mahendra Wahanaputra Ladjar | Editor Sabrina Asril
JAKARTA, KOMPAS.com – Tentara Nasional Indonesia (TNI)-Polri membangun tujuh dapur umum guna membantu warga dengan ekonomi menengah ke bawah atau yang terdampak langsung oleh pandemi virus Corona. “Kami dari TNI dan Polri membentuk dapur umum di DKI Jakarta ini sekitar tujuh,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nanan Sudjana saat meninjau lokasi dapur umum seperti yang disiarkan siaran live Instagram akun @polsekmetrotamansari pada Selasa (14/4/2020).
Ketujuh lokasi itu ada di Kota Tua, Tamansari, Tanjung Priok, Tambun Selatan, Kemayoran, dan dua wilayah di Jakarta Selatan.
Dapur umum tersebut akan dibuka selama 20 hari ke depan. Baca juga: Pemprov DKI: 200-an Perusahaan Besar Diizinkan Beroperasi Saat PSBB oleh Kemenperin, Seharusnya Tutup “Rencananya pelaksanaan dapur umum ini akan kami laksanakan selama 20 hari kedepan dan akan kami lihat perkembangannya,” ucap Nana.
Adapun sasaran penerima makanan dari dapur umum ini adalah warga sekitar yang ekonominya menengah ke bawah, para pekerja lepas, pengemudi ojek online dan lainnya. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Nantinya petugas TNI-Polri bergantian memasak untuk menyajikan makanan bagi masyarakat. Selain itu, Nana juga akan mengevaluasi keberadaan dapur umum selama beberapa hari ke depan. Bila dirasa baik dan diterima masyarakat, Nana pun berencana menambah dapur umum di beberapa lokasi.
“Kami akan mengevaluasi dan berikutnya akan kami tambah ya,” ucap Nana.
Dalam peninjauan lokasi dapur umum, Kapolda juga didampingi oleh Wakapolda Metro Jaya Brigjend Pol Hendro Pandowo dan Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Audie S Latuheru.








Pelaksanaan PPKM Darurat menurut Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (DPP LPKAN) Indonesia sangat penting.



Surabaya – Lembaga Pemantau Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Indonesia, mendukung penuh kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat, Jawa-Bali, dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Oleh karena itu, lanjut Mohammad Ali, LPKAN Indonesia siap mengawal program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di tengah lonjakan kasus Covid-19, di antaranya pemberian dana stimulus program PEN seiring adanya penerapan PPKM Darurat.
“Kami siap memberikan masukan kepada aparat penegak hukum untuk bertindak tegas bagi penyelenggara negara yang sengaja memanfaatkan anggaran kedaruratan Covid-19 ini yang tidak sesuai nomenklatur keuangan negara dan peraturan yang berlaku,” tegas Ali kepada wartawan di Surabaya, Rabu 7 Juli 2021.
LPKAN Indonesia juga meminta pemerintah melalui lembaga penegak hukum untuk memperketat pengawasan bantuan anggaran penanggulangan ekonomi akibat pandemi.
Dengan demikian, kata Muhamad Ali, bantuan tersebut tepat sasaran, sehingga masyarakat penerima manfaat tidak dirugikan oleh oknum “berdasi” yang sengaja memanfaatkan situasi pandemi ini.
Pihaknya juga mendorong penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan penyalahgunaan penyelewengan dana Bansos. Baik itu melalui program bantuan langsung tunai (BLT) maupun bantuan pangan non tunai (BPNT).
Hal tersebut dikatakan Mohammad Ali, menyusul adanya dugaan penyalahgunaan dana Bansos tersebut sempat viral yang baru-baru ini ditemukan oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini di Malang, Jawa Timur.
Menurut Mohammad Ali, tidak menutup kemungkinan penyelewengan-penyelewengan dana tersebut bisa saja terjadi di daerah lain di seluruh Indonesia.
“DPP LPKAN Indonesia berharap agar pihak Kepolisian bertindak tegas dengan kejadian tersebut, agar masyarakat yang terdampak dari virus Corona dapat merasakan bantuan dari pemerintah, dan meringankan beban hidupnya,” imbuh Mohammad Ali.
Pihaknya juga berharap agar virus varian baru Corona tersebut segera bisa diantisipasi pemerintah oleh sehingga pemulihan ekonomi masyarakat segera kembali berjalan lancar.
Pada kesempatan itu, DPP LPKAN Indonesia juga turut mengevaluasi terkait pelaksanaan program 1 Juta vaksin per hari pada bulan Juli oleh pemerintah.
“Kami berharap pelaksanaan vaksin gratis tidak terpusat pada satu titik, melainkan dapat tersebar merata di seluruh desa, kecamatan. Baik kota maupun kabupaten di seluruh Indonesia. Hal itu agar tidak menimbulkan cluster baru akibat kerumunan warga mengantri demi mendapatkan vaksin gratis,” ujar Mohammad Ali. (ana)